Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Mit Nite Tausiah

2 comments

Pernahkah kita berpikir, kapankah waktu yang tepat untuk “memberikan” pengetahuan tentang agama, ibadah atau tentang apa saja kepada putra-putri kita. Pengetahuan tentang agama, perilaku, amal ibadah adalah hal sangat penting untuk diketahui, agar putra – putri kita tidak “tersesat”. Tiap orang tentu mempunyai jawaban sendiri tentang kapan  waktu yang tepat  tersebut. Aku juga demikian. Aku biasanya memberikan tausiah pada putraku pada waktu malam hari.

Aku terkadang masih menemani tidur putraku di kamarnya. Sejatinya, aku memang masih belum tega untuk membiarkan putraku tidur sendirian, karena putraku masih kelas enam sekolah dasar.

Tentunya aku tidak langsung berbisara “cas,cis,cus” tentang berbagai hal. Biasanya kami berbincang tentang berbagai hal dahulu, yang kemudian “diselipi” dengan “hukum agama” tentang suatu  hal yang sedang dibicarakan.

Banyak “ilmu” yang bisa kita berikan pada putra putri kita, misal: wudlu, di sini banyak hal yang bisa kita ajarkan, contohnya, hal yang wajib dalam wudlu, yang sunah dalam berwudlu, yang membatalkan wudlu. Atau tentang sholat, disini juga banyak yang bisa kita ajarkan, misal: hal yang wajib dalam sholat, hal yang sunah dalam sholat. Dan masih banyak lagi “hal” yang dapat kita berikan kepada putra putri kita dengan suasana yang “santai” tapi mengena.

Janganlah kita berbicara seperti “berceramah”, karena berceramah  biasanya sangat tidak di sukai anak. Anak lebih suka bila dipancing dengan suatu “masalah”, baik yang dihadapi sendiri maupun orang lain. dan dia ingin mendapat jawaban atas masalah yang tidak di ketahuinya atau yang masih meragukannya.

Aku biasanya masih memberikan kesempatan pada putraku untuk menanyakan tentang hal yang aku bicarakan itu pada orang yang dianggap mengerti masalah itu pada orang lain, misalnya pada guru, ustad atau pada siapapun yang dianggap mengerti masalah itu.

Intinya kita harus memberikan “ilmu” yang bermanfaat kepada putra-putri ita agar mereka tidak “tersesat”.

Yang juga lebih penting adalah kita harus memberi contoh pada putra putri kita dengan perbuatan yang nyata. Kita juga harus mengamalkan  apa yang telah kita ajarkan kepada putra – putri kita. Bukan hanya ngomong doang

Read more

Iming – iming

1 comments

Siapa yang tidak tahu makna dari judul diatas? aku yakin semua pasti tahu. Iming-iming artinya adalah suatu pemberian yang akan diberikan bila si “obyek” mau melakukan “sesuatu” atas permintaan si “subyek”. Ha ha ha sok mengajari pelajaran bahasa indonesia, emang nialai raport aku berapa?

Hari –hari belakangan ini kita di bombardir berita tentang “eksekusi mati” para gembong narkoba. Yang sangat menyita perhatian adalah “si cantik”: Mary Jane. narapidana wanita yang berasal dari Philipina.

Yang kita tahu, sekarang di negaranya sana sedang ada usaha untuk menyelamatkan dia dari eksekusi mati. Dan Khabarnya sedang dibuat drama bila Mary Jane hanyalah “korban” trafficking, alias korban perdagangan manusia. Sangatlah mengherankan adalah apabila “satu hari” sebelum pelaksanaan eksekusi, dikhabarkan bila sang perekrut Mary Jane menyerahkan diri. Apa masuk akal, bila seorang gembong, tiba tiba berbaik hati menyerahkan diri?

Iming-iming yang sangat besar, tentulah sangat menarik hati, apalagi bila iming-iming itu nilainya  sangat fantastis, tentu sangat mendorong manusia untuk “tamak” mendapatkannya.

Tapi harus juga diingat, bila seseorang memberi iming-iming yang besar apalagi bila nilainya sangat tidak logis, pasti si “pemberi” mempunyai tujuan yang tidak logis pula. Dan bila seseorang bersedia  melakukan permintaan si pemberi iming-iming pastilah dia sudah tahu resiko yang akan dihadapinya.

Salah satu orang yang ingin memperoleh iming-iming itu adalah Mary Jane, pasti dia tahu “resiko” apa yang akan dihadapi. Karena “ketamakannya” untuk mendapatkan iming-iming yang fantastis, dia bersedia melakukan permintaan si pemberi iming - iming tadi.

Bila sekarang  PBB, dan Amnesti Internasional pada ribut mengecam Indonesa, dan menyebut bangsa Indonesia adalah bangsa barbar, apakah mereka tidak keblinger?

Iming iming apakah yang akan didapatkan oleh PBB dan Amesti Internasional bila berhasil menyelamatkan Mary Jane dari Ekseusi hukuman mati?

Read more

Pak Presiden, Lanjutkan

0 comments

Pagi ini begitu ceriah, sehingga burung-burungpun tiada segan menyanyikan lagu yang merdu. Tapi tidak dengan dengan raut beberapa orang di seberang sana, mereka tampak bersungut-sungut seakan mau keluar tanduknya untuk menyerang seseorang atau bahkan ada yang kebakaran jenggot padahal mereka tidak berjenggot. Pusing bukan, mau ngomongin apaan sih penulis ini, tenang….semua pasti juga akan tahu.

Hari ini aku sangat bangga dengan apa yang telah di”lakukan” oleh pemimpin  negara ini, dengan “gagah berani” memerintahkan untuk EKSEKUSI terpidana mati karena kasus narkoba, tidak seperti pemimpin sebelumnya yang tidak pernah berani melakukan hal yang sama.

Kita pasti juga tahu , resiko apa yang akan kita terima sebagai konsekuensi. Tapi apa mungkin kita akan mengorbanku ratusan ribu per hari nyawa anak bangsa ini hanya untuk menyelamatkan segelintir nyawa.

Mereka boleh memanggil pulang para duta besarnya, atau mengancam untuk memutuskan hubungan diplomatiknya. Tapi kita harus menegakkan harga diri kita sebagai bangsa dan negara. Mereka melakukan “protes” juga karena ada kepentingan politik dalam negerinya. Tidaklah murni untuk menyelamatkan “para gembong” demi kemanusiaan.

Bolehlah mereka berdalih “demi kemanusian” untuk menyelamatkan para gembong narkoba. Bagaimana mereka berusaha untuk menyelamatkan para gembong narkoba dengan berdalih demi rasa kemanusian sedang para gembong narkoba sendiri tidak pernah menganggap  anak bangsa ini sebagai manusia.

Bapak Presiden yang pemberani, LANJUTKAN EKSEKUSI PARA GEMBONG NARKOBA, KAMI SELALU MENDUKUNGMU,AYO!!! KITA TUMPAS MEREKA. BILA MEMUNGKIN EKSEKUSI PULA KORUPTOR DI NEGERI INI. KARENA MEREKA TAK LEBIH HANYA BINATANG MELATA

Read more

Ihlas

4 comments

“Ayah,ihlas itu apa?”, tiba-tiba anakku bertanya.

“Ihlas adalah amal dan perbuatan yang tidak mengharapkan sesuatu balasan, dan hanya mengharapkan ridha dari Alloh semata”, jawabku.

“Ayah, apabila kita mengerjakan sholat, tetapi kita mengharapkan balasan surga dari Alloh, apakah itu namanya ihlas?”, anakku kembali mengajukan pertanyaan.

Aku tercengang dengan pertanyaan anakku, bingung bagaimana cara menjawabnya, bagaimana cara menerangkannya, karena anakku baru kelas enam sekolah dasar.

Aku tidak mungkin menjawab sekenanya, karena jawabanku pasti akan menjadi pijakan anakku dalam melakukan sesuatu ibadah dan amalan apapun.

“Anakku, sholat merupakan sebuah kewajiban hamba  kepada penciptanya, yaitu Alloh, bila kita tidak melaksanakannya  atau meninggalannya maka kita akan mendapat hukuman dari Alloh, dan bila melaksanakan perintahnya  maka kita akan hadiah dari Alloh. Terus apa bentuk hukuman dan hadiah dari Alloh itu? ya, terserah kepada Alloh. Misal yang yang meninggalkan sholat mendapat hukuman masuk neraka, sedang yang yang mendirikan sholat mendapat hadiah surga. Kita tidak bisa hitung-hitungan dalam beribadah kepada Alloh, kita tidak seperti orang jual – beli.  Kita hanya diperintah untuk beribadah, dan imbalannya terserah Alloh” aku mencoba menjelasan kepada anakku

“Jadi , bila kita beribadah dan beramal kebaikan itu kita hanya “karena Alloh” tidak boleh di embel-embeli “biar mendapat surga” ya Yah?” anakku mencoba menegaskan apa yang telah aku terangkan

“Ya, Anakku, karena untuk mendapat surga itu perlu “rahmat Alloh”, tidak ada satupun jaminan bila kita mengerjakan kebaikan itu pasti masuk surga, bila alloh tidak memberikan rahmatnya kepada kita.” jawabku mantab

Kami kemudian berbincang tentang lain hal.

Read more

Akulah kebenaran

18 comments

Wowww….gila banget tuh judul posting kali ini. Maaf kawan jika Anda semua tersinggung dengan judul di atas.

Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa aku adalah yang paling benar, aku cuma ingin mengungkapkan rasa kegemasanku dengan situasi yang berkembang kini.

Lihatlah di sana, gonjang –ganjing DKI, para legislative dan  eksekutive, mereka saling bersilang pendapat, mereka saling klaim bahwa mereka  yang paling benar. mereka saling kritik dan menyalahkan  seolah lawan mereka tidak sedikitpun ada benarnya.

Juga disana, para politikus “A” dan “B”, mereka satu rumah, satu instutusi, mereka saling berebut legimitasi atas kelompaknya, dibawalah ke pengadilan, ehh…. begitu juga mereka masih tidak terima, masih juga mengklaim bahwa dirinya yang paling sah. Akulah yang benar.

Yang ini malah kebangetan, sudah jelas-jelas tertangkap tangan dan bukti juga di depan mata dan dinyatakan sebagai tersangka, masih juga berkelit, mereka mengatakan bahwa yang menetapkan tersangka adalah pihak yang salah, bahkan mereka bersama-sama menggugat. Unik bukan. Mereka merasa tidak bersalah dengan mengajukan berbagai alibi.

Gonjang ganjing di negeri ini seolah tiada hentinya. Antara kementerian dan organisasi massa dan kemasyarakan saling klaim.Yang lucu, organisasi tersebut masih menyusu ataupun mengharapkan dana dari pemerintah untuk kelangsungan hudupnya, tapi mereka tidak mau diatur pemerintah dengan alasan tidak mau diintervensi oleh pihak lain, apa kagak kebliger tuh.

Intinya, mereka mengklaim bahwa dirinya adalah yang paling benar, tidak ada kebenaran selain yang datang dari dirinya dan kelompoknya.

Read more